Toko Baju (The Clothing Shop)
Aku berwarna merah muda dan feminin.
Aku berwarna hitam dan sangar.
Terkadang aku memiliki lengan yang panjang.
Terkadang aku diciptakan tanpa lengan.
Aku terkadang begitu anggun, namun terkadang begitu minimalis.
Terkadang aku merasa bahwa aku diciptakan utuh dalam satu set pakaian yang lengkap.
Namun di lain waktu, aku merasa bahwa aku adalah setiap bagian itu secara terpisah.
Terkadang benang dan jarum terasa begitu kejam dan menyakitkan.
Namun terkadang, mereka hanya sedang berusaha memperbaiki sesuatu dariku.
Aku tak begitu yakin.
Baju yang mana yang seharusnya kutaruh di etalase toko?
Yang anggun?
Yang imut?
Yang agak tomboi?
Apakah aku membutuhkan manekin pria?
Atau manekin wanita?
Atau mungkin...
lebih baik aku menutup etalaseku dengan tirai merah?
Penjahit di dalam diriku tak pernah berhenti menciptakan sesuatu.
Apakah yang ia buat berguna?
Apakah pakaian-pakaian itu benar-benar bisa dikenakan?
Apakah mesin jahitnya baik, atau justru jahat?
Aku tak tahu.
Aku pusing.
Aku mual.
Aku ingin muntah.
Aku lelah memikirkannya.
Orang-orang yang berjalan di trotoar selalu membuatku khawatir.
Sebagian hanya lewat begitu saja. Sebagian melirik.
Sebagian berhenti dan mengagumiku.
Ada yang benar-benar peduli.
Ada pula yang tidak.
Ada yang menyukai bentukku yang anggun dan elegan.
Ada yang lebih menyukai diriku yang imut.
Ada yang menyukai diriku yang hitam dan tomboi.
Ada pula yang lebih menyukai warna-warnaku yang cerah.
Bahkan ada yang menyukai aku ketika aku kecil, ceria, dan dibuat untuk anak-anak.
Begitulah manusia. Begitu beragam.
Sebagian ingin memiliki salah satu bajuku. Sebagian lagi hanya masuk, melihat-lihat, lalu pergi tanpa tertarik.
Adakah yang salah?
Ataukah mereka yang aneh? Entahlah.
Mungkin aku hanya perlu lebih pandai memilih pakaian yang kutaruh di etalase, agar orang-orang yang tepat berhenti untuk melihatnya.
Setelah sekian lama, akhirnya aku menyadari sesuatu.
Semua bentuk itu... yang feminin, yang imut, yang elegan, yang anggun, yang tomboi, yang kekanak-kanakan, yang ceria, yang minimalis—
semuanya... adalah diriku.
Termasuk sang penjahit. Termasuk mesin jahitnya. Termasuk rasa sakit dari jarum dan benang yang menusukku.
Aku... ternyata selama ini adalah sang toko baju. Aku menyimpan semua bentuk itu di dalam diriku. Dan semuanya adalah bagian dariku.
Kini aku tak lagi mengkhawatirkan para pejalan di trotoar.
Aku telah membuka tirai etalaseku selebar-lebarnya, memperlihatkan seluruh pakaian indah yang kumiliki. Aku percaya, sebanyak apa pun orang yang berlalu, atau sedikit apa pun yang berhenti, baju-bajuku akan selalu indah bagi mereka yang tepat.
Karena semua baju itu adalah diriku.
Dan itu berarti, aku pun akan indah bagi orang yang tepat.
The Clothing Shop
(English Version)
I am pink and feminine. I am black and fierce.
Sometimes I have long sleeves. Sometimes I am made without sleeves at all.
Sometimes I am graceful. Sometimes, I am beautifully simple.
At times, I feel as though I was created as a complete outfit—every piece perfectly belonging together.
Yet other times, I feel as though I am every single piece scattered apart.
Sometimes, the thread and the needle seem cruel.
They hurt.
But sometimes, perhaps they are only trying to mend something within me.
I am not sure. Which clothes should I place in my shop window? The elegant ones? The adorable ones? The slightly boyish ones? Should I display them on a man's mannequin? Or a woman's?
Or perhaps... I should simply hide everything behind a crimson curtain.
The tailor inside me never stops creating. Are the clothes worth making?
Can they truly be worn?
Is the sewing machine kind...
or cruel?
I do not know.
I feel dizzy.
Sick.
As though I might throw up. I am tired of wondering. The people walking past my shop always worry me.
Some walk by without a glance. Some look. Some stop, and admire what they see. Some genuinely care. Others do not.
Some fall in love with my elegant dresses. Others prefer my softer, cuter pieces.
Some like the darker, more boyish versions of me. Others are drawn to my brighter colors. There are even those who love the little clothes—the cheerful ones made for children.
People are astonishingly different...
Some wish to take one of my clothes home. Others step inside, look around, and quietly leave, finding nothing they wish to keep.
Is something wrong with me? Or are they simply different?
Perhaps... I only need to learn which clothes belong in my shop window. Then, the right people will stop.
After all this time...
I finally understood.
Every version of me... the feminine, the adorable, the elegant, the graceful, the boyish, the childlike, the cheerful, the minimalist—
every single one of them... is me.
The tailor is me. The sewing machine is me. Even the needle, and the pain of being stitched together, is part of me.
Then I realized... I had never been the clothes.
I was the clothing shop all along.
I carry every one of those garments within me. Every one of them belongs here.
So I no longer fear the people passing by.
I have pulled the curtain wide open, letting every piece of myself fill the display.
And I know, no matter how many people keep walking, or how few choose to stop, my clothes will always be beautiful to the right person.
Because every garment is a part of me.
And that means... I will be, too.