Rusa di Kepalaku (The Deer in My Mind)
Seekor rusa meloncat kesana-kemari di kepalaku. Entah apa maunya, dia terus meloncat.
awalnya, dia meloncat dengan damai
lalu, semakin ia terusik, semakin ia menjadi-jadi.
Sang rusa memiliki tanduk,
Tanduknya semakin besar dan ujungnya runcing seperti jarum.
Semakin aku membuatnya meloncat, semakin sakit saat tanduknya menyentuh dinding kepalaku.
Ia seakan berusaha mengukir keberadaannya melalui guratan-guratan buatannya itu.
Guratan-guratan itu mengeluarkan mata air merah berbau amis yang kemudian membentuk kolam pemandian untuk si rusa.
Sang rusa lapar. Ia meraung dan menghentakkan kakinya ke lantai-lantai kepalaku.
Sang rusa sepertinya berusaha mengguncang kepalaku.
Akibatnya, kepalaku terasa sakit sekali.
Sekarang ia ingin meloncat keluar mengambil wujud air yang mengalir keluar dari kedua mataku.
Sang rusa bertambah satu.
Bertambah dua.
Bertambah tiga.
Dan seterusnya hingga tidak ada yang tahu pasti berapa jumlahnya, termasuk si rusa sendiri.
Barangkali sebagian rusa bahkan tidak menyadari bahwa mereka adalah rusa.
Beberapa dari mereka benar-benar hidup dan meloncat membenturkan tanduknya ke dinding kepalaku, dan sebagian yang lain hanya menetap disana.
Sang rusa berubah menjadi monster. saat ia berubah menjadi wujud yang lebih berduri...
ia menuruni kepala menuju kerongkonganku dan tiba di dadaku. Disana ia menyeruduk tembok-tembok rapuh itu seakan bergegas ingin bebas.
Beruntung aku adalah aku.
aku adalah kandang yang kokoh bagi si rusa.
Rusa tidak akan bisa menembusku dan meloncat keluar. Sayangnya, rusa belum bisa menyadarinya, ia tetap berusaha meloncat keluar. Walau di beberapa kesempatan saat aku, si kandang, sedang dalam kondisi rapuh, mereka hampir mengalahkanku.
Terkadang mereka ingin keluar dalam wujud air melewati mataku.
Terkadang mereka menggedor dadaku dengan brutal.
Dan dalam kesempatan yang lain mereka berusaha mengambil wujud suara keras yang melengking bak sirine melalui mulutku.
Untungnya aku adalah aku.
Aku, Sang kandang yang kokoh bagi si rusa. Kuharap para rusa menyerah dan lelah untuk terus berusaha meloncat bebas, menuju bagian terluar diriku.
Bukan karena telah terkalahkan, tetapi karena ia tak pernah benar-benar terkurung.
The Deer in My Mind
(English Version)
A deer keeps leaping through my mind.
I do not know what it wants.
It simply refuses to stop.
At first, it leapt with quiet grace—almost peaceful.
But the more It was disturbed, the wilder it became.
The deer has antlers,
They grow larger... Sharper.
with every passing moment.. their tips sharpened into needles.
Each leap drives them against the walls of my mind.
Every strike leaves another scar, as though the creature is carving proof that it exists.
From every wound...
Crimson spring begins to flow.
metallic with the scent of blood.
until it gathers into a pool... where the deer washes itself.
The deer is hungry,
It bellows.
Its hooves pound against the floors of my mind until my skull seems ready to split apart.
Now it longs to escape. It searches for another shape to inhabit— the water that slips silently from my eyes.
One deer becomes two.
Two become three.
Three become countless.
Eventually, even the deer themselves can no longer remember how many of them there are.
Perhaps some no longer realize that they are deer at all.
Some keep running, slamming their antlers into the walls of my mind.
Others simply remain there, watching.
The deer becomes a monster. Its body grows thorns where fur once was.
It descends from my head, through my throat, until it reaches my chest.
There it charges against the fragile walls surrounding my heart, desperate to break free.
Fortunately... I am still myself.
I am the cage that keeps the deer alive.
No matter how fiercely it leaps, it cannot escape me. Though sometimes, when the cage grows weak, it almost wins.
Sometimes it tries to flee through tears.
Sometimes it pound violently against my chest.
And sometimes it takes the shape of a scream, rising through my mouth like a siren.
Still... I remain the cage. I only hope the deer will one day grow tired. That they finally abandon their endless attempts to escape beyond me.
Not because it is defeated— but because it finally realizes it has never truly been trapped.